Alkisah, ada seorang pemuda yang dikenal dengan kegigihannya dalam
belajar dan semangatnya yang sangat besar untuk menuntut ilmu. Ia lahir pada
tahun 150 Hijriyah, tahun wafatnya seorang ulama besar di bidang fiqh, yakni
Imam Abu Hanifah. Siapa yang dapat menduga, karena kecintaanya yang
teramat besar terhadap ilmu, kelak pemuda ini menjadi Imam bagi mazhab yang
diikuti oleh 28% umat Islam sedunia sekaligus imam bagi mazhab terbesar kedua
setelah mazhab Hanafi. Pemuda itu bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah,
yang saat ini kita kenal sebagai Imam Syafi'i.
Sejak kecil Syafi'i muda telah menjadi yatim dan hidup bersama ibunya di sebuah wilayah di negeri Hijaz. Ibu Imam Syafi'i adalah wanita yang tekun ibadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Hingga usia beliau menginjak 10 tahun, sang ibu memutuskan untuk membawa Syafi'i ke Mekkah karena khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan. Di Mekkah, Imam Syafi'i dikirim belajar kepada seorang guru, sebenarnya sang ibu tidak mampu membiayainya, namun guru tersebut menolak untuk dibayar setelah melihat kecerdasan dan kehebatan Imam Syafi'i muda dalam menghafal. Meski pun hidup dalam kemisikinan, Imam Syafi'i tidak berputus asa, ia mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit dan tulang hingga tempayan milik ibunya untuk dipakai menulis hadits. Beliau telah hafal Qur'an pada usia 7 tahun. Menakjubkan!
Waktu pun terus berlalu, Syafi'i muda tumbuh dalam lansekap
kehidupan kota Mekkah yang kaya akan khazanah pengetahuan. Ia telah banyak
belajar ilmu fiqh, lughoh, hadits dibawah bimbingan para ulama
Mekkah. Hingga akhirnya tibalah waktu yang dinantikan itu, saat-saat yang
akan dikenang oleh Imam Syafi'i sebagai momentum sekaligus awal perjumpaan
beliau dengan sosok ulama yang dikagumi dan dicintainya, Imam Malik. Pertemuan
tersebut telah menghubungkan titik-titik perjalanan ilmu yang telah dilaluinya
menjadi sebuah kurva ekstrapolasi yang menukik.
Saat itu tahun 170 Hijiryah, berbekal hafalan Kitab al-Muwaththa karya
Imam Malik, beliau pergi dari Mekkah menuju Madinah demi menemui sang Imam,
berharap dapat berguru kepada beliau. Setelah berhadapan dengan Imam Malik,
beliau membacakan hafalan al-Muwaththa. Imam Malik pun takjub,
bukan hanya karena hafalan Imam Syafi'i yang begitu kuat namun beliau melihat
ada sebuah perhiasan berharga dalam diri beliau, perhiasan yang memunculkan
rona cahaya melebihi kemilau intan dan permata, yakni perangai takwa dan
perhiasan jiwa Imam Syafi'i yang gigih mencari ilmu. Saat itu, usia Imam
Syafi'i masih 20 tahun, tapi ilmu dan wibawanya jauh melampaui orang-orang
diatas usianya.
Imam Syafi'i hidup dalam keindahan ilmu bersama Imam Malik hingga
meninggalnya sang Imam pada tahun 179 Hijriyah. Begitu besar rasa cinta
dan rasa hormat Imam Syafii kepada Imam Malik sehingga beliau sangat berduka
setelah ditinggal pergi Imam Malik. Beliau melanjutkan dakwah Islam dan menebar
ilmu ke Irak hingga Mesir . Beliau meninggal pada usia 54 tahun, yakni pada
tahun 204 Hijriyah setelah menulis ratusan kitab tentang fiqh, adab dan
tafsir.
Ar-Rabi
menyampaikan bahwa beliau bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya.
Ar-Rabi berkata kepada beliau, “Apa
yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah?” Beliau
menjawab, “Allah
mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku
mutiara-mutiara yang halus”.
Demikianlah, sepenggal kisah hidup seorang ulama besar yang kaya
akan wibawa telah mengajari kita untuk senantiasa belajar dan bersemangat
mencari ilmu Allah. Beliau telah mengajarkan setiap muslim untuk menjadikan
aktivitas belajar dan dakwah sebagai puncak aktivitas di atas rutinitas
mencari maisyah atau kuliah. Namun, sayang diantara banyak
para pengemban dakwah, hanya sebagian kecil yang mengerti. Di antara sebagian
kecil, lebih sedikit lagi yang memahami. Di antara yang lebih sedikit itu,
lebih sedikit lagi yang mengamalkan.
Coba perhatikan, betapa kita memahami bahwa salah satu faktor penyebab kemunduran umat adalah tatkala ditinggalkannya bahasa arab, bahwa mempelajari bahasa arab adalah hal mutlak yang harus dilakukan, namun entah seberapa banyak diantara kita yang bermalas-malasan mempelajari bahasa arab namun malah rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk mempelajari bahasa Inggris demi mengejar skor TOEFL di atas 550. Betapa kita memahami bahwa al-Qur'an yang kita hafalkan kelak akan menjadi penerang kita di alam kubur yang gelap nan gulita dan menyelamatkan kita dari pedihnya azab Allah swt, namun banyak diantara kita yang bermalas-malasan untuk menambah hafalan Qur'an walau satu atau dua ayat saja sehari. Sebaliknya, bersemangat dalam menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menjadi seorang expertise dalam bidang entrepreneur atau bidang akademik demi mengejar ambisi karir. Astaghfirullah!
Coba perhatikan, betapa kita memahami bahwa salah satu faktor penyebab kemunduran umat adalah tatkala ditinggalkannya bahasa arab, bahwa mempelajari bahasa arab adalah hal mutlak yang harus dilakukan, namun entah seberapa banyak diantara kita yang bermalas-malasan mempelajari bahasa arab namun malah rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk mempelajari bahasa Inggris demi mengejar skor TOEFL di atas 550. Betapa kita memahami bahwa al-Qur'an yang kita hafalkan kelak akan menjadi penerang kita di alam kubur yang gelap nan gulita dan menyelamatkan kita dari pedihnya azab Allah swt, namun banyak diantara kita yang bermalas-malasan untuk menambah hafalan Qur'an walau satu atau dua ayat saja sehari. Sebaliknya, bersemangat dalam menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menjadi seorang expertise dalam bidang entrepreneur atau bidang akademik demi mengejar ambisi karir. Astaghfirullah!
Hidup adalah pilihan. Pilihan atas keterpaksaan dan keberanian.
Kita harus memaksakan diri kita untuk berani melangkah dari zona nyaman yang
hanya membuat kita merasa cukup dengan melakukan sedikit amal shaleh. Kita
harus mengoptimalkan usia muda yang kita miliki untuk menambah valensi serta
nilai diri yang kita miliki. Jangan pernah berpuas diri dengan sebatas pandai
mengaji atau berkumpul dengan orang-orang yang shaleh saja. Bukankah bunga
mawar terus bersemi dan mewangi walau pucuk tanaman lain mekar dan berbuah?
Belajarlah dari tanaman. Ia tumbuh dan berkembang, perlahan-lahan namun pasti
hingga akhirnya akarnya kuat mencengkram, batangnya kokoh, rantingnya
menjelajahi setiap langit dan buahnya ranum di setiap musim.
Sebagai penutup, mari kita simak perkataan Imam Syafii yang cukup
mahsyur tentang ilmu. Beliau berkata :
“Aku mengadukan perihal keburukan hafalanku kepada guruku, Imam
Waki’ bin Jarrah. Guruku lalu berwasiat agar aku menjauhi maksiat dan dosa.
Guruku juga berkata, ‘Muridku, ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya. Dan
cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang-orang yang suka berbuat
maksiat.’”
Itulah nasihat yang patut kita renungkan karena kandungannya yang
begitu mendalam dan penuh makna. Mungkin, dibalik kesulitan kita dalam
mempelajari bahasa arab, dibalik lemahnya kita menjaga hafalan Al-Qur'an, serta
kurangnya kita dalam upaya memahami ilmu agama, ada kemaksiatan yang
menyebabkan Allah tidak menganugerahkan cahayaNya kepada kita. Lalai dalam
amanah, berleha-leha dalam dakwah, menyepelakan himmah, atau
kemaksiatan lain yang tidak kita sadari. Naudzubillah.
Semoga Allah swt menganugerahkan kepada kita bahtera keistiqomahan untuk mengarungi lautan ilmu Allah yang begitu luas. Semoga Allah swt menganugerahkan kepada kita mahkota keimanan agar kita dapat taat dalam kesabaran ketika mendaki menara kehidupan. Semoga besarnya ekspektasi umat kepada kita disertai dengan niat dan amalan yang benar. Semoga setiap niat yang baik ada yang menyertai.
Sahabat, mari kita berbenah.
Semoga Allah swt menganugerahkan kepada kita bahtera keistiqomahan untuk mengarungi lautan ilmu Allah yang begitu luas. Semoga Allah swt menganugerahkan kepada kita mahkota keimanan agar kita dapat taat dalam kesabaran ketika mendaki menara kehidupan. Semoga besarnya ekspektasi umat kepada kita disertai dengan niat dan amalan yang benar. Semoga setiap niat yang baik ada yang menyertai.
Sahabat, mari kita berbenah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar